Seberapa “sabar”
dirimu?
Diukur dengan
kesabaranmu bersama orang-orang yang tidak penyabar??
Okelah, kalo
sebagian dari kita menyebut sabar itu relatif, artinya tergantung pada kekuatan
seseorang yang mempunyai ruang hati sangat luas. Saya setuju, apabila ada yang
bilang “sabar itu ada batasnya”. Iyalah setuju, karna memang bukan orang dengan
kepribadian santai apalagi pengalah. *baca: Penyabar*
Tapi ternyata,
setelah dipelajari detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi
hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun dan dari banyak pengalaman hidup yang
dilalui dengan penuh perjuangan, bahwasannya “Sabar itu tak berbatas”. Betapa tidak,
sebenarnya kita bisa sabar kok. Ingat saja seberapa sabar kamu menghadapi teman
yang tidak pe-nyabar.
Naaahhhhh....
Dari pengalaman
saya tinggal bersama dalam satu kamar dengan saudara “ketemu gedhe”. Beberapa tipe
teman saya kenali dengan baik. Banyak sekali perbedaan karakter dengan diri
sendiri, apa yang diterapkan orang tua di rumah berbanding terbalik dengan kebiasaan-kebiasaan
mereka, tak banyak pula yang kebiasaannya sama dengan kita. Ada dua tipe teman
yang sering menggelitik hati ini dan sangat terpaksa untuk dimengerti kebiasaannya.
Yang pertama, dia dengan kebiasaannya berbicara dengan suara keras. Bayangkan saja,
bagaimana tidak mendelik, kalo yang diajak bicara ada di depannya tapi suara
dan intonasinya seperti memanggil orang di atas gunung. Dia punya gadget super
canggih yang sering disebut dengan tablet, bisa ditebak kalo di dalam tablet temannya
kapsul ini terdapat –suara dan gambar yang bisa bergerak- dan acara
kesayangannya adalah kontes dangdut yang notabe-nya ditayangkan sampai larut
malam. Dia yang sangat kontras dengan teman-teman satu kamar ini, selalu
mengikuti acaranya sampai selesai dan parahnya dia ikut bernyanyi dengan
lantang dalam lantunan lagu yang didendangkan oleh kontestannya, lebih-lebih
tertawa lepas ketika mc dan jurinya melucu. Terang saja, satu kamar terbangun
dan berteriak memaki dia. Tak berhenti sampai disitu, dia yang pembawaanya
sangat molor dan menunda-nunda pekerjaan sering membuat kami pusing untuk
mengingatkannya. Tapi.. kalo sudah bertemu kemepetan, bingungnya Masya Allah
banget, menggemparkan satu kamar. Katakan saja, dia yang salah, kenapa kami
yang dimarahi???? Ini yang paling penting, harus extra sabar saat keluar bareng
dia, mood-nya suka berubah-ubah dan bisa dipastikan dia akan mengeluh marah
kalo kecapean, padahal juga dia yang butuh dan kami yang mengantar. Agh..
sudahlah, kita tidak mau membicarakan orang lebih lama lagi kan?? Hehe.. tapi
teman yang kedua ini lebih menggelitik nih ,, dia tidak separah teman yang
tadi, hanya saja sedikit menguras tenaga. Pembawannya kalem banget, tutur
katanya lembut, cantik, suka makan tapi ngga mau gendut. Padahai sih udah ..
suka galau mendadak, kalo sudah begitu, dia akan muter bolak-balik di tempat
tinggal kami, ngomong ngga jelas dan bertele-tele. Kami yang diajak ngomong,
sering ngga ngerti dan dia pun ngga mau mengerti kalo sebenarnya kami juga
capek melihat dia seperti itu.
Bukan... bukan
saya mengajak ber-ghibah show dengan membicarakan teman-teman saya,
bukaaannnn... sebenarnya kita termasuk
orang-orang yang tidak bisa bersabar, karna sebaliknya kedua teman saya tadi
juga punya cerita tentang kesabarannya menghadapi saya.
Menurut saya,
ini yang di maksud dengan bersabar dengan sesuatu hal yang paling kecil.
Tentu saja,
kita punya ukuran sendiri-sendiri dengan kesabaran-kesabaran yang hinggap di
setiap peristiwa hidup kita. Bisa dipastikan, apabila kita bisa menyabari
kesulitan-kesulitan kecil itu kita terlatih dengan sebuah kesabaran yang
teramat besar yang akan ada disetiap periode hidup kita. Jalani saja, kita
tidak tau kan seberapa besar hadiah yang kita dapat diatas kesabaran-kesabaran
itu?
Tetap bersabar
dengan kesabaran terkecil sampai yang menurut kita sangat besar.
"Yakinlah akan
ada sesuatu yang indah selepas kesabaran-kesabaran yang kau lewati."